Berita Guru

Mewujudkan Guru Profesional Menuju Indonesia Unggul

Banyak harapan dan cita-cita yang ingin diwujudkan pada peringatan HGN dan HUT PGRI tahun ini. Mulai dari peningkatan kesejahteraan hingga melahirkan guru yang profesional.

Dalam kurun waktu lima tahun ke depan pemerintah akan memberi perhatian lebih terhadap peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Pembangunan SDM ini ditujukan agar Indonesia sebagai salah satu negara besar di dunia, memiliki daya saing yang tinggi. Mampu menjadi negara yang ungul. Keinginan pemerintah itu pun didukung penuh oleh Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI. Itu sebabnya pada Peringatan HUT PGRI ke-74 dan Hari Guru Nasional 2019 mengambil tema Peran Strategis Guru dalam Mewujudkan SDM Indonesia Unggul.

Sebagai pendidik, guru memegang peranan yang penting dan strategis dalam mewujudkan SDM Indonesia yang unggul.  Sejatinya para Ibu Bapak Guru berada di barisan paling depan dan menentukan untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju dan sejahtera dari sekarang. Dari dedikasi para guru, mampu mencetak SDM berkualitas yang dibutuhkan oleh Indonesia.

Peringatan HUT PGRI ke-74 dan Hari Guru Nasional 2019 sudah berlangsung sejak September 2019 yang lalu. Puncak acara Peringatan HUT PGRI ke-74 dan Hari Guru Nasional 2019 akan dipusatkan di Kabupaten Bekasi, pada 30 November 2019.  Penetapan Kabupaten Bekasi sebagai tuan rumah puncak acara Hari Guru Nasional 2019 ini, disambut antusias oleh seluruh jajaran di Pemkab Bekasi. Bupati Kabupaten Bekasi, Eka Supria Atmaja mengatakan, kepercayaan  ini merupakan kehormatan sekaligus kebanggan bagi seluruh warga Kabupaten Bekasi. “Oleh karena itu Pemkab Bekasi medukung penuh terselenggaranya acara ini,” kata Bupati Bekasi.

Seperti peringatan di tahun-tahun sebelumnya, pada acara puncak peringatan Hari Guru akan dihadiri oleh guru-guru perwakilan seluruh provinsi di tanah air serta kepala atau pimpinan daerah se-Indonesia. Presiden Republik Indonesia, selama ini selalu berkenan hadir dalam acara ini. Tahuh ini Presiden Joko Widodo juga akan hadir pada acara puncakPeringatan HUT PGRI ke-74 dan Hari Guru Nasional 2019.

Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi, menjelaskan  pada acara ini Presiden berkenan untuk memberikan secara langsung penghargaan kepada para guru-guru teladan dan bresprestasi dari seluruh Indonesia. Tahun ini, Presiden juga akan memberikan penghargaan kepada  para guru yang berasal dan bertugas di Papua. Kepala daerah yang dinilai memliki kontribusi besar terhadap kemajuan pendidikan di daerahnya masing-masing juga akan menerima penghargaan dari Presiden.

Tak hanya itu, acara puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2019 ini akan dimeriahkan dengan pentas seni. Di antaranya menghadirkan seribu orang penari dari Kabupaten Bekasi. Mereka akan membawakan tarian khas dari Kabupaten Bekasi dan juga tarian lainnya dari berbagai darerah di tanah air.   

Sebenarnya, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, tentang penetapan Hari Guru Nasional (HGN), peringatan HGN jatuh pada 25 November. Tahun ini kebetulan 25 November jatuh di hari kerja (Senin). Itu sebabnya tahun ini, puncak peringatan HGN dan HUT PGRI secara nasional diselenggarakan pada 30 November, di luar hari kerja.

Di era perkembangan teknologi yang demikian cepat guru memang menghadapi banyak tantangan. Dari mulai penggunaan teknologi dalam  menyampaikan materi, pemanfaatan gadget yang tidak tepat di kalangan siswa, kurikulum yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman, hingga kewajiban sertifikasi.

Memiliki Peran Strategis

Pada peringatan HGN tahun ini juga masih menyisakan masalah klasik yang dihadapi dunia pendidikan, salah satunya kekurangan tenaga guru. Sekretaris Jenderal Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) H Ali Rahim mengatakan, per Agustus 2019 Indonesia masih kekurangan tenaga guru sebanyak 1,1 juta orang. Sementara berdasarkan data yang disampaikan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), kekurangan guru lebih dari 870 orang per 31 Desember 2018.

Ali menjelaskan, kekurangan jumlah guru terbanyak adalah di jenjang pendidikan sekolah dasar (SD). Hal ini dikarenakan sebagian besar guru yang pensiun setiap tahun mencapai 45 ribu hingga 50 ribu orang. Sedangkan guru SMP dan SMA/SMK relatif sedikit. Kekurangan jumlah guru tersebut, katanya, sebagai dampak dari adanya kebijakan moratorium penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) untuk tenaga kependidikan selama lima tahun.

Di sisi lain masih banyak guru honorer yang belum diangkat menjadi guru tetap. PGRI mencatat dari sekitar 3 juta guru di Indonesia, sekitar 1,5 jutanya merupakan guru honerer. Banyaknya guru honorer ini menurutnya karena tidak ada aturan yayasan atau sekolah untuk mengangkat honorer.

Menurut Unifah Rosyidi, setiap tahun isu kekurangan guru selalu muncul. “Kami pengurus PGRI baik di tingkat pusat hingga daerah selalu berjuang agar rekan-rekan guru honorer bisa diangkat menjadi guru tetap,” katanya kepada Media Pendidik. Oleh karena itu, menurutnya PGRI juga punya kewajian untuk meningkatkan kualitas guru, khususnya guru-guru honorer. Pasalnya, untuk bisa diangkat menjadi guru tetap, mereka harus mengikuti serangkaian ujian terlebih dulu.

Sementara itu. Kustiwa Beno Putra, Wakil Ketua PGRI, Provinsi  Jawa Barat  mengatakan, peringatan HGN dan HUT PGRI tahun ini menjadi momentum yang baik. Pasalnya, peringatan HGN tahun ini bertepatan dengan dimulainya pemerintahaan baru  setelah cukup lama masyarakat terpolarisasi akibat gelaran Pemilu dan Pileg serentak. “Adanya kebijakan-kebijakan baru dari pemerintah, membuat kami  makin semangat untuk  berkerja,“ kata Kustiwa.

Kebijakan yang dimaksud terkait pengadaan guru tetap. Untuk di Jawa Barat, mulai Oktober ini ada mulai ada penerimaan guru ASN (Aparatur Sipil Negara). Meskipun harus diakui peneriman guru ASN di Jabar, kata Kustiwa, belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan. Ia mengungkapkan di Jabar masih membutuhkan sekitar 60 ribu orang guru. Sementara untuk yang guru ASN yang akan diangkat sekitar 300 orang.

Bertepatan dengan HGN dan HUT PGRI, PGRI Jabar juga memiliki program bersama Pemerintah Provinsi Jabar, yakni Jabar Juara Lahir Bathin. Pemprov Jabar menilai peran guru, termasuk organisasi yang menaunginya, PGRI punya peran yang penting dalam mewujudkan misi Jabar Juara Lahir Bathin.

Ketua PGRI Unifah Rosyidi sendiri berharap, melalui peringatan HUT ke-74 PGRI dan HGN 2019, PGRI dapat berkontribusi dalam mewujudkan  guru yang profesional dalam rangka peningkatan layanan pendidikan yang bermutu menuju SDM Indonesia unggul.

Peran guru dalam perjalanan sejarah bangsa ini sungguh besar dan sangat menentukan. Guru miliki peran strategis dalam mewujdukankeberhasilan pendidikan. Guru juga berperan dalam mempersiapkan dan mengembangkan potensi yang dimiliki generasi penerus (pelajar) untuk mencapai tujuan nasional, yakni mencerdaskan bangsa.

Sejak masa penjajahan hingga era milenial saat ini, guru terbukti mampu menanamkan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa dan menanamkan semangat nasioalisme kepada pelajar dan juga masyarakat. Di awal tahap kebangkitan nasional, guru turut aktif dalam organisasi pembela tanah air dan ikut membina jiwa semangat para pemuda pelajar saat itu.

Dedikasi, tekad dan semangat persatuan dan kesatuan para guru yang dimiliki secara historis ini perlu dipupuk, dipelihara dan dikembangkan. Hal ini sejalan dengan tekad dan semangat di era global menuju masa depan bangsa yang lebih baik. Di saat yang bersamaan guru harus mampu menjaga solidaritas dan soliditas sesama komponen bangsa yang lain. Guru juga harus berupaya menjaga kebersamaan dan menghindari perpecahan antara sesama anak bangsa.

Nah, sebagai penghormatan kepada guru dan juga PGRI, pemerintah melalui  Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan 25 November sebagai Hari Guru Nasional. Tangal itu dipilih mengacu pada hari lahirnya PGRI, organisasi profesi guru terbesar di Indonesia yang lahir pada 25 November 1945. Berdasarkan Kepres tersebut, sejak 1995 peringatan Hari Guru Nasional sekaligus merupakan Hari Ulang Tahun PGRI.

Pada tahun 2019 ini, PGRI genap berusia 74 tahun. Usia yang cukup matang dan dewasa bagi sebuah organisasi. Dalam perjalanannya, PGRI terus berupaya mewujudkan guru yang profesional, sejahtera, dan bermartabat dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.

Peringatan HUT PGRI ke-74 dan HGN 2019, sebenarnya juga menjadi momentum kebangkitan guru untuk menjadi guru yang lebih profesional dalam menghadapi tantangan di era revolusi industry 4.0. Semoga peringatan HGN tahun ini juga mampu memberikan motivasi dan inspirasi bagi guru seluruh Indonesia untuk menjaga persatuan dalam membesarkan marwah PGRI sebagai organisasi profesi guru terbesar di Indonesia.

Show More

Related Articles

Back to top button