Kolom

Menelisik Kiprah PGRI Kab. Bekasi 2002 – 2020

Oleh : Karman K. Are (Ketua Cabang PGRI Tambun Selatan)

Jati diri PGRI adalah organisasi profesi, perjuangan, dan ketenagakerjaan. Sesuai dengan jati dirinya, organisasi ini terus berjuang bagi kepentingan profesi melalui kerja-kerja organisasi hingga muara akhirnya adalah kepentingan bangsa dan  negara. Sebagai sebuah organsasi usia PGRI sudah cukup tua, sama tuanya dengan usia Republik ini, yaitu 74 tahun. Organisasi ini beranggotakan para guru yang tersebar di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Mearuke, dan merupakan salah satu organisasi besar dengan resources yang cukup memadai, karena mayoritas anggotanya berpendidikan sarjana (S1) bahkan pasca sarjana (S2).

          Perjuangan dan peran PGRI bagi bangsa dan negara tak diragukan lagi, karena guru sebagai garda terdepan, ujung tombak untuk merealisasikan tujuan bangsa dan negara ini , seperti yang termaktub di dalam pembukaan Undang – Undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Perjuangan serta inisiasi yang terus menerus dilakukan oleh PGRI dalam kerangka meningkatkan kompetensi profesi guru, serta memuliakan profesi guru agar lebih bermartabat maka lahirlah Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Sehingga  guru memperoleh tunjangan profesi sebagai seorang profesional. Untuk pentas  nasional kiranya peran dan kiprah PGRI bagi peningkatan kompetensi profesi serta peningkatan kesejahteraan bagi anggotanya sudah dirasakan oleh seluruh anggota.

          Seiring berjalannya waktu pemerintah pun menyadari pentingnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul agar mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Sehingga untuk periode keduanya Presisden Jokowi menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia yang unggul, dan tanggung jawab ini tentu berpulang kepada kita para guru yang dapat menciptakan manusia-manusia unggul dengan tetap mengedepankan pendidikan yang berkarakter Indonesia. Dan PGRI semakin mendapatkan peran strategis untuk mengawal kebijakan ini.

          Pada tataran lokal khususnya PGRI Kabupaten Bekasi terus mengawal garis  kebijakan organisasi PB. PBRI,  dengan tetap  melakukan kerja-kerja organisasi bagi kepentingan anggota PGRI di Kabpuaten Bekasi sesuai dengan program kerja yang sudah ditetapkan. Sejak tahun 2002 – 2012 PGRI Kabupaten Bekasi dinakhodai oleh Drs. Soon Djukian, beliau seorang Kepala Sekolah Dasar (Kepala SD) tapi memiliki kapabilitas dan akseptabilitas yang tinggi, karena kemampuannya memimpin roda organisasi cukup mumpuni, kepiawaiannya melakukan approach terhadap kekuasaan yaitu Pemerintah Daerah Kabupaten  Bekasi sangat baik, kemitraan yang dibangun dengan Dinas Pendidikan cukup sinergis. Bahkan Seorang Ketua PGRI masa itu masuk dalam jajaran quote unquote Elite Lokal Kabupaten Bekasi.

Perjalanan karier Drs. Soon Djukian di organisasi  PGRI  memang cukup panjang, diawali sebagai seorang Ketua Cabang PGRI Kec. Tambun, kemudian Wakil Ketua PGRI Kabupaten Bekasi hingga pada akhirnya menjadi Ketua PGRI Kabupaten Bekasi. Pada masa kepengurusan dipimpin Bapak Drs. Soon Djukian, Pemerintah Kabupaten Bekasi mengeluarkan kebijakan diberikannya tunjangan daerah bagi guru dan tenaga kependidikan, dari mulai TK Negeri, SD Negeri, SMP Negeri, SMA Negeri dan SMK Negeri sebesar Rp 400.000.

 Prestasi lain yang membanggakan dilakukan oleh Drs. Soon Djukian adalah mampu menyatukan guru di Kabupaten Bekasi lintas jenjang lintas strata tanpa dikotomi Guru SD, Guru SMP, Guru SMA, dan Guru SMK, klaim selama ini bahwa PGRI hanya milik Guru SD terbantahkan dengan sendirinya. Guru adalah guru tanpa labeling apa pun.

Perjuangan lain yang dilakukan adalah terbangunnya Gedung Guru yang terletak di Kawasan Perumahan Metland Tambun. Perjuangan ini pun tidak mudah karena  cukup panjang dan  melelahkan, karena selain berkomunikasi dengan Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) juga berkomunikasi dengan berbagai pihak untuk meyakinkan arti penting dan kebermanfaatannya Gedung Guru bagi guru-guru di Kabupaten Bekasi sebagai pusat kegiatan para guru. Oleh karena sulitnya perjuangan membangun Gedung Guru, sebagai bentuk apresiasi kita terhadap orang-orang yang berjasa dan berperan atas terbangunnya Gedung Guru perlu dipertimbangkan oleh PGRI Kabupaten Bekasi untuk membuat Buku Sejarah Gedung Guru, agar generasi guru berikutnya tidak lupa sejarah.

Tahun 2012 era Drs. Soon Djukian berakhir, suksesi di PGRI Kabupaten Bekasi pun berlangsung mulus dengan terpilihnya Asep Saepulloh, M.Pd seorang Kepala SMA sebagai Ketua PGRI Kabupaten Bekasi (sampai saat ini), dan ini bagian dari kemampuan Drs. Soon Djukian melakukan kaderisasi organisasi. Karena Asep Saepulloh mampu memimpin roda organisasi dengan baik menggantikan pendahulunya. Pada saat Bapak Asep Saepulloh menjadi Ketua PGRI, kebijakan pemberian tambahan penghasilan untuk Guru dan Tenaga Kependidikan ASN oleh pemerintah Pemerintah Kabupaten Bekasi tahun anggaran 2019 menjadi :

  1. Penilik Ahli                                                               Rp. 5.500.00,-
  2. Pengawas SMP                                                         Rp. 5.200.000,-
  3. Pengawas SD                                                            Rp. 5.100.000,-
  4. Pamong Belajar                                                        Rp. 5.500.000,-
  5. Kepala TK Negeri                                                      Rp. 4.600.000,-
  6. Kepala SD Negeri                                                      Rp. 4.800.000,-
  7. Kepala SMP Negeri                                                    Rp. 5.000.000,-
  8. Kepala SKB                                                              Rp. 5.000.000,-
  9. Koordinator Tata Usaha                                              Rp. 4.700.000,-
  10. Penata Laporan Keuangan pada Satuan Pendidikan                   Rp. 4.300.000,-
  11. Pengadministrasian Umum pada satuan Pendidikan                   Rp. 4.100.000,-
  12. Pengelola Sarana dan Prasarana Kantor pada

Satuan Pendidikan                                                     Rp. 4.200.000,-

  1. Pramu Kebersihan pada satuan Pendidikan                     Rp. 3.000.000,-
  2. Guru Gol IV                                                             Rp. 2.500.000,-
  3. Guru Gol III                                                             Rp. 2.000.000,-

Hal lain yang dilakukan adalah rehab Gedung Guru , cukup megah kondisi fisik gedung guru saat ini, kemampuan bersinergi dengan pemerintah daerah pun dilanjutkan dengan baik oleh Asep Saepulloh, M.Pd. Dan untuk peningkatan profesi diterbitkannya majalah Media Pendidik, dan Media Online (mediapendidik.com), serta Media Jurnal

Pendidikan, untuk kepentingan jurnal karya tulis bagi guru-guru yang akan naik pangkat karena sangat dibutuhkan. Program lain adalah Sagu Sabu (Satu Guru Satu Buku) sebuah program untuk merangsang para guru agar mau menulis hingga menghasilkan sebuah karya berupa buku. Dan yang terkini adalah mampu melaksanakan tugas berat sebagai tuan rumah HUT PGRI dan HGN Tahun 2019 tingkat Nasional di Kabupaten Bekasi dengan sukses.

Melihat fakta yang ada, dialami dan dirasakan oleh anggota, betapa organisasi memiliki peran yang sangat strategis bagi perjuangan peningkatan kompetensi profesi dan ketenagakerjaan dalam hal ini kesejahteraan anggota. Apa yang sudah dilakukan dari kepemimpinan kedua orang tersebut sangatlah berarti bagi keberlanjutan organisasi di masa datang. Meski demikian masih ada catatan kecil yang harus dituntaskan agar paripurna. Dua catatan kecil tersebut antara laian adalah :

  • Status gedung guru masih belum jelas karena sampai dengan saat ini belum dihibahkan untuk PGRI;
  • Kondisi badan bangunan (gedung utama) dengan bangunan pendukung tidak seimbang seperti Musala, Kantin, dan WC karena gedung utama begitu megah, akan tetapi sebaliknya Musala, Kantin, dan WC kurang layak, sehingga nampak tidak serasi dan harmoni dan tak sedap dipandang mata.

Periode kedua kepemimpinan Asep Saepulloh, M.Pd akan berkahir September

2022, masih tiga tahun waktu tersisa dan waktu yang cukup untuk menuntaskan program-program yang belum terealisasi serta menyelesaikan yang menjadi catatan kecil penulis.  

Hal lain yang tidak kalah pentingnya harus dipikirkan oleh Asep Saepulloh adalah menyiapkan kader pengganti untuk suksesi 2022-2027. Bagaimana pun hal tersebut harus disiapkan sejak saat ini, untuk mencari kader terbaik yang dapat melanjutkan roda organisasi, setidaknya memiliki kemampuan setara dengan sebelumnya atau bahkan lebih baik sehingga mampu memenuhi ekpsektasi anggota.

          Tantangan ke depan tentu semakin berat, diperlukan pemimpin yang mampu mewacanakan narasi besar, melakukan lompatan berpikir “Out of The Box”, serta memiliki integritas dan track record yang baik. Kader terbaik bisa berasal dari kalangan pengurus kabupaten, pengurus cabang, atau anggota biasa, dan bisa berasal dari Guru SD, Guru SMP, Guru SMA, atau Guru SMK seperti yang terjadi sebelumnya. Waktu tiga tahun cukup untuk mengamati Key Performance Indikator (KPI) masing-masing anggota dan pengurus yang memiliki kapabilitas sehingga layak diusung untuk memimpin organisasi ke depan.

          Sebagai generasi berikutnya yang akan melanjutkan kesinambungan organisasi, kami sangat berterima kasih kepada Pengurus PGRI Kabupaten Bekasi baik era Drs. Soon Djukian mau pun Asep Saepulloh, M.Pd (saat ini),  yang telah meninggalkan legacy yang sangat berarti bagi kami, dan dengan tulus  ikhlas telah telah mewakafkan pikiran, tenaga, serta waktu untuk organisasi.

Kini saatnya generasi berikutnya menata diri, meningkatkan kemampuan baik kemampuan organisasi mau pun kemampuan manajerial untuk menggantikan estafet kemimpinan agar eksistensi organisasi PGRI di Kabupaten Bekasi terus berlanjut, utamanya bagi kepentingan anggota, serta mampu memberikan masukan-masukan yang signifikan bagi para pengambil keputusan “Decision Maker” khususnya yang terkait pendidikan dan bersentuhan dengan profesi guru. Sehingga keberadaan organisasi dapat dirasakan oleh anggota, dan eksistensinya tak  dipandang sebelah mata, akan tetapi dijadikan mitra sejalan untuk pengambilan kebijakan policy yang terkait pendidikan dan guru.

Show More
Back to top button