Kolom

Menebak Arah Edukasi di Era Industry 4.0

Oleh: Aries Heru Prasetyo, Ph.D, ACP

Data scientist, Vice Dean Research and Innovation

Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jakarta

Desain pendidikan di era industry 4.0 tergolong sangat kompleks. Selain tingginya peran teknologi dalam kehidupan generasi muda kita, perkembangan pola pikir siswapun kini semakin kompleks. Dengan kata lain, proses pendewasaan siswa kini berlangsung semakin cepat dari generasi-generasi terdahulu. Mereka tak lagi berpikir tentang hal-hal yang berada dalam atmosfer dunianya. Tengoklah beberapa figur anak-anak yang mampu tampil di kancah global untuk berbicara tentang pemanasan global atau isu lingkungan lainnya, atau isu-isu kemanusiaan seperti kesetaraan gender, tentang urgensi penghentian perang dan lain sebagainya. Tak hanya itu, di tingkat yang paling sederhana, kreativitas mereka terkadang mengarahkannya pada upaya untuk menegakkan apa yang dipandangnya benar. Dengan daya dukung konsistensi yang tinggi, pada banyak kesempatan para siswa juga terlihat sangat bersemangat dalam menjalankan apa yang diajarkannya sebagai sebuah kebenaran.

Satu bahan refleksi yang dapat kita cermati bersama adalah ketika anak-anak beroleh pemahaman bahwa penggunaan plastik sampai dengan volume tertentu akan berdampak pada kerusakan lingkungan. Spontan, mereka akan meninggalkan tak hanya sedotan atau peralatan makan habis pakai berbahan plastik, tak jarang bahkan mereka menolak untuk menggunakan botol minum air mineral yang juga berbahan plastik. Selanjutnya pikiran merekapun berkembang dengan melihat betapa ketergantungan kita pada material plastik yang cukup tinggi. Jangan kaget bila mereka akan berpikir inovatif dalam menghasilkan produk-produk yang memanfaatkan material plastik dalam jumlah lebih rendah.

Kompleksitas para anak didik kita seperti kisah di atas ternyata didukung oleh derasnya aliran informasi dari dunia maya. Hal inilah yang sekiranya menjadi perhatian semua pihak. Sebab tidak semua informasi dari dunia barat adalah hal yang tepat bagi kita. Di situlah peran seorang Guru dalam kerangka Tut Wuri Handayani mutlak diperlukan. Ini merupakan fakta yang sekaligus menjawab pertanyaan besar yang selama ini dinilai cukup mengganjal perkembangan dunia akademis ‘akankah peran Guru tergantikan oleh teknologi?’.

Perkembangan sistem kecerdasan buatan yang begitu pesat harus diakui telah berhasil menciptakan media pembelajaran yang sangat bervariasi, banyak pula yang gratis. Saya contohkan saja, ketika putera-puteri kami mengalami kesulitan mempelajari bahasa Indonesia setelah bertahun-tahun tinggal di negeri orang, maka aplikasi bahasa Indonesia yang gratis spontan menjadi solusi atas kebuntuan yang terjadi. Namun itu tak kan efektif bila tidak disertai oleh adanya sosok Guru sebagai pendamping. Pada beberapa kesempatan, putera saya yang kala itu berusia enam tahun selalu bertanya makna di setiap kata yang menurutnya sangat penting. Sebut saja ‘Keyakinan’ atau ‘Kebenaran’. Kehadiran sosok pendidik di sekolahnya sangat diharapkan untuk menjawab setiap pertanyaan kritis dari sang anak.

Meskipun demikian, pandangan di atas tidak cukup kuat untuk meniadakan fungsi dari aplikasi teknologi khususnya yang berlandaskan sistem kecerdasan buatan. Sebagai seorang data-scientist, satu proyeksi arah edukasi 4.0 yang dapat saya ajukan adalah dengan mengkombinasikan duo peran antara sistem teknologi dengan sosok Bapak/Ibu Guru. Pada pendidikan dasar, teknologi dapat diarahkan sebagai media penunjang pembelajaran, sedangkan sosok Guru perlu terus diposisikan sebagai pemberi arah pada ranah budi pekerti. Kasih sayang seorang Guru dalam menemani generasi muda kita untuk mengembangkan pola pikirnya mutlak tak tergantikan oleh sistem, meski dengan kecanggihan yang menyetarai pola pikir manusia. Intinya karena sistem adalah sistem, yang merupakan ciptaan manusia. Alhasil di beberapa titik akan ditemui kelemahan.

Pada pendidikan menengah, peran teknologi dapat diarahkan sebagai mitra siswa ketika berada di luar jam sekolah. Sepanjang kami tinggal di Taiwan, kami mencermati bahwa sistem pendidikan di sana dirancang sedemikian rupa sehingga membuat para siswa gemar membaca buku atau mempelajari ilmu matematika secara menyenangkan dan mandiri. Di situlah manfaat teknologi. Tak jarang kami melihat para siswa di kereta api, pusat perbelanjaan, taman hingga halte bus terlihat asyik belajar dengan media interaktif teknologi yang digunakannya. Uniknya, ketika pada suatu kesempatan kami melihat seorang Guru datang menghampiri, spontan mereka mematikan semua gadget lalu memberi salam seraya menyediakan perhatiannya untuk mendengarkan kata-kata arahan bijak dari sang Guru. Itulah yang membuat peran dan sosoknya tak kan pernah tergantikan.

Paradigma seperti itulah yang perlu dihadirkan di negara kita. Selamat hari Guru, terima kasih untuk semua jasa yang telah diberikan. Semoga berkat Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menyertai perjalanan para pendidik di Indonesia.

Show More
Back to top button