Berita Guru

Melirik Arah Pendidikan Nasional ke Depan

Pemerintah memang akan merevolusi sistem pendidikanan nasional. Pembenahan apa saja yang akan dilakukan, untuk menyiapkan SDM yang bekarakter dan dibutuhkan dunia usaha?

Dalam rapat kerja perdana antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim

dengan Komisi X DPR RI, yang berlangsung 6 November lalu, terungkap apa saja yang akan dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan di lima tahun ke depan. Menurut Mendikbud, Kementerian yang dipimpinya itu akan menyiapkan SDM  yang dapat beradaptasi dan menerima perubahan.

Untuk itu pihaknya akan mendorong pelajar di Indonesia untuk menjadi manusia masa depan yang mudah menerima perubahan. Sebagai SDM yang akan berkiprah di masa datang, memiliki ciri sebagai berikut: memiliki kemampuan adaptasi yang  tinggi (Adaptabilitas). Selain itu, SDM di masa depan juga harus memiliki kemampuan flexibel, kreatif, dan mampu berkominikasi dengan baik, serta memiliki karakter, integritas dan memiliki sifat compassion (kepedulian).

Tidak hanya itu, pendidikan di Indonesia harus bisa membuat SDM memiliki kemampuan dan kemauan untuk belajar seumur hidup. “Ini merupakan kompetensi yang terpenting,” ujar Nadiem Makarim. Selain itu, SDM Indonesia juga harus memiliki karakter berupa  moralitas dan akhlak. Dikatakan oleh Nadiem, dalam kegiatannya sehari-hari inovasi jadi sarapan utamanya. ”Mungkin itu juga sebabnya Presiden memilih saya sebagai Mendikbud,” ujarnya. Mendikbud pun menekankan perlu adanya revolusi atau lompatan dalam bidang pendidikan. Menurutnya, tidak bisa sistem pendidikan nasional dikelola dengan kecepatan seperti sekarang ini.

Selanjutnya, Menteri Nadiem juga mengakui bahwa mengelola SDM memiliki kompleksitas yang paling tinggi. Itu sebabnya, menjadi guru merupakan tugas tersulit di negara ini. “Memang sejak dulu saya suka  mencari hal-hal rumit dan sulit. Oleh karena itu saya tertarik untuk bergabung di Kabinet Indonesia Maju menjadi Mendikbud, lagi pula ini memang merupakan passion saya,” jelas Nadiem.

Sebagai menteri yang notabene merupakan pembantu presiden, Nadiem kembali menegaskan apa yang telah disampaikan Presiden Joko Widodo, bahwa tidak ada visi-misi menteri, yang ada hanyalah visi misi Presiden. Sesuai dengan arahan yang disampaikan Presiden kepada dirinya, maka Nadiem pun membuat rencana arah pendidikan nasional Indonesia ke depan.

Pendidikan Karakter

Nadiem menegaskan,  saat ini dunia memasuki era information overload. Jika SDM tidak memiliki karakter yang kuat dan kemampuan menganalisa, maka ia akan tergerus oleh informasi hoax dan penjajahan pemikiran. Saat ini, menurut Mendikbud, hampir semua perusahaan komplain akan ketidakprofesionalan SDM. Untuk itu lembaga pendidikan harus mendidik pelajar dengan menumbuhkan karakter-karakter yang dibutuhkan oleh dunia profesional. Seperti tepat waktu, menghargai atasan, mampu kerjasama, dan lain sebagainya.

Saat ini gejala intoleransi terjadi di mana-mana. Di negeri yang begitu beragam seperti Indonesia, perasaan kesamaan identitas harus dibangun. Untuk generasi millenial, konsep pembangunan karakter harus diterjemahkan ke dalam konten yang dapat dimengerti oleh millennial. Tidak bisa pendidikan karakter diberikan dengan hanya membaca buku atau mendengarkan seseorang bicara. Itu harus tercermin dalam kegiatan.

Dalam pendidikan karakter orangtua dan masyarakat tidak boleh diabaikan. Pendidikan karakter juga harus terjadi juga diluar sekolah, karena murid hanya menghabiskan beberapa jam di sekolah, sisanya lebih banyak di luar sekolah.

Saat ini  beban administratif pengajar sangat besar. Sekitar 30-40 persen waktu dosen dan guru habis untuk itu. Dampaknya tidak efektif memberikan pembelajaran kepada murid. Ini pun harus disederhanakan. Dalam sistem pendidikan nasional jika ingin meningkatkan mutu maka harus mengeluarkan peraturan. Menurut pendiri GoJek ini, ke depan harus dievaluasi, apakah di lapangan peraturan tersebut efektif mencapai untuk tujuan awal?

Saat mengimplementasikan kurikulum sebenanrya bukan hanya konten, tapi bagaimana konten tersebut diajarkan di dalam kelas. Apakah siswa dapat berpartisipasi dalam proses belajar mengajar?  Lalu organisasi  pendidikan harus disederhanakan. Selama ini guru dan dosen mengeluh banyak instansi yang harus mereka hubungi untuk akreditasi, sertfikasi, dan lain-lain.

Meningkatkan Investasi dan Inovasi

Secara tegas Mendikbud mengatakan, kondisi link and match di Indonesia sudah cukup parah. Banyak kompetensi yang sebenarnya tidak relevan diajarkan, sebaliknya yang penting justru diabaikan. “Kita harus menciptakan lingkungan dimana soft skill dilatih, bukan hanya konten tapi cara itu diajarkan,” ujarnya.

Terkait link and match maka yang paling penting di perhatikan adalah penilaian yang diberikan oleh dunia industri. Saat ini rapor dari mereka, penilaian mereka masih buruk. Perlu disadari dunia industri dunia usaha merupakan user dariSDM yang dihasilkan oleh sistem pendidikan  nasional menilai. Terkait hal ini maka revitalisasi pendidikan kejuruan harus segera dilakukan.

Peran Kemendikbud terkait hal ini adalah mengempower industri untuk berpartisipasi dalam pendidikan. Hal itu pada akhirnya kan berdampakuntuk mereka juga, terutama SMK dan Politeknik. Kemendikbud pun ingin menggenjot investasi di sektor pendidikan. Kendalanya, saat ini regulasinya kurang memadai untuk bisa dilirik investor. Jadi, pemerintah memang harus bisa membuat regulasi yang membuat investor tertarik berinvestasi di sektor pendidikan.

Dalam hal penciptaan lapangan kerja, saat ini persoalan yang dihadapi adalah bagaimana kita menciptakan SDM yang bukan hanya terserap ke lapangan kerja, tapi juga menjadi pencipta lapangan kerja. Pendidikan entrepreneurship adalah jawabannya.  Kreativitas, seni, ekspresi, adalah jiwanya entrepreneurship. Selama ini skill-skill kreatif seperti musik dan seni seringkali diabaikan.

Pemberdayaan Teknologi

Ada rumor yang berhembus, jika Nadiem Makarim menjadi Menteri Pendidikan, maka semua proses belajar mengajar akan digantikan oleh aplikasi. Menurut Mendikbud itu merupakan persepsi yang salah. Pendidikan adalah apa yang terjadi di ruang kelas dan di rumah. Teknologi tidak mungkin menggantikan koneksi itu. Harus ada koneksi batin agar trust  tercipta dan proses belajar mengajar akan efektif.

Sebenarnya, apa manfaat dari teknologi? Jawabannya untuk efisiensi budget dan waktu. Lalu untuk transparansi, berbasis data. Jika data yang tersedia tidak tepat, tidak real time dan terstruktur, keputusan yang diambil juga tidak akan baik. Teknologi memberikan fleksibilitas, personalisasi, dan segmentasi. Nah, tiap sekolah memiliki kebutuhan yang berbeda.  Dalam transparansi keuangan dan penggunaan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari anggaran itu tidak hanya send tapi juga delivered.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close