Berita Guru

Link and Match, PR Besar Kementerian Pendidikan

Banyak harapan yang ditujukan kepada Kementerian Pendidikan saat ini. Salah satunya, institusi pendidikan harus mampu menyiapkan SDM yang dibutuhkan dunia industri.

Dalam kurun waktu lima tahun ke depan pemerintah daerah menurut  Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian akan lebih serius mengakomodasi dua program unggulan, yakni pendidikan dan kesehatan. Dua program tersebut harus diakomodasi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Apa yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri tersebut membuktikan bahwa pendidikan memang menjadi salah satu sektor yang akan jadi perhatian utama pemerintah.

Dalam alokasi APBN 2020, ada tiga pos belanja negara yang terbesar. Untuk kesehatan pemerintah menyiapkan anggaran Rp132 triliun, untuk belanja infrastruktur  Rp423 triliun dan untuk sektor pendidikan Rp508 triliun. Melihat alokasi anggaran APBN untuk pendidikan yang begitu besar, ditambah dengan perhatian yang juga begitu besar, wajar saja jika banyak harapan yang ditujukan kepada Menteri Pendidikan Nadiem Makarim. Pendiri GoJek ini diharapkan mampu memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, hingga mampu mencetak SDM-SDM unggul dan berkualitas.

Di sisi lain memang sejumah pihak masih banyak yang mempertanyakan kapasitas Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan. Tilik saja, dia bukan sosok yang berasal dari dunia pendidikan. Bukan juga peneliti, pengajar, apalagi pakar bidang pendidikan.  Berbeda  juah dengan latar belakang menteri-menteri pendidikan sebelumnya, yang sudah kenyang makan asam garam di dunia pendidikan.

Sementara latar belakang akademiknya lebih banyak dihabiskan di luar negeri. Nadiem hanya menempuh pendidikan di dalam negeri hingga lulus SMP. Ia melanjutkan SMA di Negeri Jiran Singapura. Setelah itu, ia berpetualang ke Amerika, kuliah di Brown University dan Harvard University Amerika Serikat dengan meraih gelar Master of Business Administration (MBA).

Sosok Nadiem lebih dikenal sebagai pengusaha muda pendiri rintisan teknologi ride hailing Gojek. Bisnis layanan ojol  (ojek online) ini berkembang dengan pesat. Sejak didirikan pda 2010. GoJek sudah berkembang  dari unicorn menjadi decacorn, perusahaan rintisan yang nilai valuasinya melebihi US$10 miliar.

Menurut Nadiem, salah satu alasan Jokowi memilihnya masuk dalam tim Kabinet Indonesia Maju adalah karena ia dinilai mampu membaca perkembangan zaman. “Saya dianggap lebih mengerti yang akan ada di masa depan, karena memang bisnis saya, mengantisipasi masa depan,” katanya setelah dilantik menjadi Mendikbud.

Menteri Nadiem Makarim sendiri mengaku, telah menyiapkan terobosan untuk dunia pendidikan. Sesuai kompetensi yang dimilikinya dan untuk menyesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman, Nadiem akan memanfaatkan teknologi untuk memajukan pendidikan Indonesia. Seperti apa terobosan itu, Mendikbud memang belum bisa mengatakannya secara rinci.

“Tapi yang jelas karena saya tergolong generasi milenial dan memiliki background teknologi, sudah pasti ada perubahan ke arah sana. Satu, harus berkarakter, merupakan suatu sistem pendidikan berdasarkan kompetensi, bukan informasi saja. Kedua, harus ada relevansi,” ujar Nadiem.

Selain itu, Sebagai Pembantu Presiden di bidang pendidikan, Nadiem juga akan menjalankan visi Presiden Jokowi dalam pendidikan serta menciptakan link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

Dalam beberapa kesempatan Presiden mengatakan harus ada link and match antara industri dan institusi pendidikan. Keterampilan-keterampilan yang dipelajari di institusi pendidikan (sekolah) memang harus relevan dengan keterampilan yang dibutuhkan industri. Tentunya prinsip utamanya adalah gotong-royong dan kolaborasi. Saat ini sudah tidak bisa melakukan semuanya sendirian, harus ada gotong-royong. Antara pusat dan daerah, antara orangtua, guru dan murid. Semua harus bergotong-royong menciptakan institusi dan kualitas pendidikan yang lebih baik.

Prioritas lainnya yang akan dilakukan Mendikbud baru adalah pengembangan teknologi. Terkait hal ini, Nadiem mengatakan bahwa fokus dari pengembangan teknologi ini adalah membantu guru dalam menjalankan kegiatan pendidikan. Ia menilai, ada paradigma yang keliru di masyarakat soal pengembangan teknologi ini. Menurutnya, selama ini teknologi di ranah pendidikan banyak disalahpahami, disalah-artikan akan mengganti peran guru dan menembus batas ruang kelas. Persepsi itu sangat keliru. Gebrakan itu bukan untuk menggantikan kurikulum secara total. “Teknologi itu untuk memperbaiki atau meng-enhance, meningkatkan kapasitas. Bukan untuk menggantikan,” ujarnya.

Sementar itu, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Unifah Rosyidi, yakin Nadiem Makarim dapat mendorong pendidikan menjadi lebih maju dan membangun kualitas SDM yang lebih baik. Oleh karena itu, PGRI siap mendukung kebijakan dan inovasi yang akan diterapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mencapai tujuan tersebut.

Unifah juga setuju dengan apa yang dikatakan Mednikbud, bahwa teknologi hanyalah alat penunjang. Kunci utama kemajuan terletak pada kualitas pengajar. Namun, ia tetap menantikan sejauh mana gebrakan teknologi yang dikembangkan Mendikbud untuk menunjang kemajuan pendidikan di Indonesia. Digitalisasi memang sebuah kebutuhan saat ini. Hanya saja, di balik itu yang terpenting adalah bagaimana bisa menggerakkan guru dan mengubah budaya kerjanya menjadi lebih bergairah. Apakah teknologi itu bisa mendorong kurikulum lebih disederhanakan ? Mampu merespons kebutuhan pengembangan pendidikan di masa depan? Ini yang sebenarya dinanti dunia pendidikan, bagaimana inovasi-inovasi itu dapat mendorong kinerja guru dan para siswa.

Empat Pesan Presiden

Ketua Asosiasi E-commerce (idEA) Ignatius Untung mengatakan, ada beberapa tantangan yang harus diatasi oleh Mendikbud Nadiem, dalam mengembangkan pendidikan di era digital. berbekal latar belakang sebagai startup, Ignatius berharap Nadiem mampu mengubah cara mengajar di Tanah Air.  Oleh sebab itu, wawasan guru maupun dosen perlu diperluas, terutama yang terkait dengan ekonomi digital.  Nah, bila wawasan pengajarnya terkait ekonomi digital sudah luas dan relatif baik, ia berharap para pelajar memiliki konteks yang tepat terkait industri di mana nantinya mereka akan bekerja.   

Para siswa sudah tahu dan bercita-cita mau bekerja di mana sejak sedini mungkin.  Sejauh ini, para pelajar hanya memahami cara kerja pekerjaan umum seperti dokter, polisi, guru, dan lainnya. Padahal, industri kian berkembang ke arah digital. Alhasil, muncul jenis-jenis pekerjaan baru yang dibutuhkan oleh industri ke depan. Seperti analis big data misalnya.  Jika para siswa tidak tahu cara kerja di era ekonomi digital, bagaimana mereka mau tertarik bekerja ke bidang itu.

Secara keseluruhan, menurutnya tantangan Nadiem ke depan sebagai Mendikbud adalah memperluas wawasan para pengajarnya. Lalu, membangun konteks yang tepat dan luas terkait ekonomi digital di kalangan pelajar.Dengan demikian, para pelajar diharapkan lebih kritis ketimbang fokus belajar dengan menghafal.

Presiden sendiri memberikan beberapa pesan kepada Nadiem Makarim terkait tugasnya sebagai Mendikbud. Pertama, Indonesia bukan hanya Jakarta. Ada banyak provinsi-provinsi lain yang butuh perhatian di sektor pendidikan. Jokowi menegaskan kepada Nadiem untuk melihat keadaan pendidikan di pulau-pulau seperti Halmahera dan Rote. Pulau Rote merupakan salah satu wilayah terluar di sebelah selatan Indonesia.

Kedua, Standardisasi kualitas pendidikan. Presiden meminta Mendikbud untuk membuat standardisasi kualitas pendidikan berdasarkan kondisi yang ada di berbagai wilayah Indonesia. Salah satu cara yang bisa dilakukan, menurut Jokowi, adalah membangun sistem atau aplikasi pendidikan. Presiden Jokowi menginginkan, Indonesia harus memiliki standar kualitas pendidikan yang merata. Tidak harus sama, boleh mirip-mirip, namun memudahkan murid dalam belajar.

Pesan ketiga, sudah saatnya dunia Indonesia memiliki kurikulum pendidikan sesuai zamannya. Artinya, kurikulum pendidikan yang ditetapkan Kemendikbud harus bisa fleksibel mengikuti kemajuan zaman. Menurut dia, Kemendikbud harus melakukan penyesuaian kurikulum pendidikan secara besar-besaran. Ini dilakukan agar dunia pendidikan dapat dengan cepat merespons pasar tenaga kerja yang berubah karena teknologi.

Keempat secara khusus Presiden meminta Mendikbud untuk membuat sistem aplikasi pendidikan. Ini untuk mempercepat peningkatan pemerataan kualitas pendidikan. Aplikasi sistem pendidikan ini, harus bisa dirasakan secara nyata oleh para murid. Teknologi informasi berupa sistem aplikasi pendidikan bisa dibuat berdasarkan kondisi lapangan di berbagai wilayah Indonesia.

Presiden Jokowi mengingatkan, menciptakan sebuah aplikasi sistem pendidikan membutuhkan waktu yang lama dan tak mudah. Ditambah lagi, Indonesia merupakan sebuah negara besar yang memiliki kesenjangan kualitas pendidikan di setiap wilayahnya. Selain itu faktor lain yang menjadi kesulitan dalam bidang manajemen pendidikan, yaitu ada sekitar 3,5 juta guru, 300.000 sekolah dan 50 juta pelajar.

Show More

Related Articles

Back to top button