Kolom

Disdik Kabupaten Bekasi Unggulkan Pendidikan Karakter

Urusan pendidikan di Kabupaten Bekasi terus dibenahi, salah satunya melalui penerapan proses belajar mengajar tematik yang diprogramkan oleh para pengajar pada anak didiknya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi melalui Dinas Kependidikan Kabupaten Bekasi optimis pencanangan pendidikan karakter akan mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas menuju Bekasi Baru Bekasi Bersih. Hal ini sejalan dengan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 45 Tahun 2019 tentang Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter di Kabupaten Bekasi.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, Dr. H. Carwinda, M.Si. memaparkan berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka membentuk karakter anak didik sesuai dengan yang diharapkan. Urusan pendidikan memang tengah dibenahi. Istimewannya, di Kabupaten Bekasi ada beberapa hal yang menjadi perhatian dalam pendidikan karakter. Salah satunya, proses belajar mengajar tematik yang diprogramkan oleh para pengajar pada anak didiknya. Cara itu diyakini mampu membentuk karakter anak sesuai yang diharapkan.

“Pendidikan berkarater melalui proses belajar mengajar tematik ini dimaksudkan adalah setiap hari siswa-siswi diberikan pengalaman belajar dengan suasana yang berbeda-beda. Kami berpendapat pendidikan karate ini harus dibentuk sejak dini, sehingga program belajar seperti ini kami terapkan mulai dari tingkat TK sampai dengan SMP. Dengan mengedepankan pendidikan bawan kita ini masyarakat yang satu kesatuan di Indonesia yang berada di Kabupaten Bekasi.

Implementasi Proses Belajar Tematik

Dipaparkan  Carwinda lebih lanjut terkait pengimplementasian metode tematik di sekolah yakni; Di hari Senin, diambil tema Bhineka Tunggal Ika, yakni dengan alasan Bekasi sebagai salah satu tujuan wilayah tempat tingga dari berbagai masyarakat Indonesia. Dengan segala perbedaan agama, suku, ras, maupun adat istiadat, disini diperlukan pendidikan anak-anak sejak dini bahwa walaupun berbeda-beda tetap satu bangsa Indonesia dan berada dalam satu wilayah di Kabupaten Bekasi. “Disini kami ingin memberikan makna perbedaan itu bukan menjadi permasalahan namun keberagaman yang menjadikan negeri ini sangat menarik,” sela Carwinda.

Hari Selasa, diambil tema Patriotisme, yakni sekolah mengenalkan kepada siswa bagaimana menumbuhkan rasa cinta pada Negara kesatuan ini dan siswa-siswi mengetahui bagaimana perjuangan para pahlawan Indonesia dalam memersatukan dan memerdekakan bangsa ini. Hari Rabu, diambil tema Mengenal Budaya Daerah, yakni siswa-siswi disekolah menggunakan baju budaya daerah. Dimana di setiap Minggu pertama diwajibkan memakai pakaian adat nusantara, sedangkan di rabu minggu-minggu berikutnya menggunakan baju encim yakni pakaian ada khas Bekasi. “Kami ingin mengenalkan budaya indonesia yang heterogen. Sehingga walaupun tinggal di wilayah Kabupaten Bekasi, siswa-siswi tetap tak akan lupa budaya daerahnya sendiri. Dan untuk yang lain bisa untuk Tsaling mengetahui baju daerah temannya,” lanjut Carwinda.

Selanjutnya, Hari Kamis, diambil tema Menggapai Harapan, yakni siswa-siswi diberikan pengetahuan tentang bagaimana mereka dapat menggapai masa depan. Hal ini juga dibarengin dengan  memberikan pelajaran yang terkait dengan teknologi dan cita-cita. Hari Jumat,  diambil tema Gemar Beribadah, yakni siswa-siswi diperlakukan untuk mendapatkan hak yang sama dalam menjalankan ibadahnya, contohnya, siswa-siswi muslim mendapatkan ilmu agama islam dimesjid atau ada gelaran pengajian, untuk siswa-siswi yang bergama Kristen mendapatkan kesempatan pembelajaran ilmu keagaman misalnya di gereja atau pun membentuk satu kegiatan tertentu demikian hal yang sama dengan siswa-siswi Bergama lainnya. “Melalui hal ini kami mengharapkan anak-anak dapat menerima segala perbedaan dan bertoleransi antara umat beragama.  Mereka harus mengetahui bahwa tidak ada perbedaan, seluruh ibadah dapat dilakuakn tanpa mengganggu ligkungan,” kata Carwinda.

Di Hari Sabtu, diambil tema aktualisasi diri, yakni dengan penyelenggaran kegiatan ekstrakulikuler, yang disesuaikan dengan kesukaan masing-masing siswa-siswi. Tak berhenti sampai Sabtu, Hari Minggu pun ada tema yang diambil yakni Belajar Dewasa. Hari minggu siswa-siswi kami arahkan untuk dibekali life skill (keterampilan hidup) dikeluarga, sehingga ada pemahamam pada anak yang mereka aktualisaikan dengan memilhat orangtuanya melaksanakan berbagai kegiatan dirumah. Dengan harapan siswa-siswi  akan terbiasa melaukan segala sesuatu sendiri, dan mereka telah siap mandiri.

Mengapresiasi Guru & Tenaga Pendidik

Diakui Carwinda, selain pencanangan pendidikan barkarakter, masih banyak langkah-langkah yang harus dilakukan terkait dalam pendidikan, khususnya yang terkait dengan permasalah infrastruktur, terkait gedung dan prasarana sekolah, serta kondisi gurunya sendiri. “Saat ini saja guru SD hingga SMP itu ada sekitar 7000, sedangkan kebutuhan kita mencapai 11000 -13000 orang, selama masih berjalan terbantu oleh guru Non ASN. Oleh karenannya kami masih terus berjuang untuk kesejahteraan guru-guru Non ASN ini”.

Selain itu, Carwinda juga memberi apresiasi pada guru-guru dan tenaga pendidik yang tak henti berupaya mencerdaskan anak-anak, atas dedikasinya, semangatnya, untuk memajukan pendidikan, terutama yang berada di wilayah Kabupaten Bekasi. Tak hanya itu, pendidikan harus sejalan dengan seluruh elemen guru dan orangtua di rumah. Nantinya akan ada penilaian yang dilakukan, sesuai dengan nilai pembangunan karakter itu sendiri. “Pendidikan karakter ini harus sejalan dengan guru dan murid, artinya tidak hanya anak harus mengikuti perintah yang diberikan. Orangtua juga harus mendukung ini,” katanya.

Bicara permasalahan, Carwinda turut menegaskan pihaknya akan tegas memberikan hukuman bagi pihak sekolah yang menjual seragam dan buku LKS. “Saya menegaskan tidak boleh sekolah jual seragam dan buku. Ini sudah sering kami berikan pengarahan namun faktanya masih saja ada yang melanggar aka nada hukumannya. Dan permasalahan infaq itu boleh asal buat anak yatim dan tidak di punggut paksa. Saya akan panggil Kabid SD nya agar di cek dan berikan Hukuman kalau memang sudah terjadi. Kita sudah melarang,edaran pun sudah kita kasih dan harus di baca peraturanya seperti apa,padahal mereka bisa baca dalam peraturan Permendikbud dan harus tau kalau itu tidak boleh jual apapun bentuk nya, ” Ucapnya.

Dia berharap, guru atau kepala sekolah bisa mempergunakan uang dari Pemda sebaik san semampunya. Sehingga tidak terlalu banyak kebutuhan akan dana macam-macam, namun terkadang sekolah inggin banyak kegiatan yang menonjol, sementara untuk menjalankannya butuh pembiayaan. Kedepan, Carwinda mengharapkan suatu saat nanti aktifitas kegiatan sekolah juga turut di biayai oleh pemerintah daerah Bekasi.

Show More
Back to top button